TARAKAN — Ketua (PURT) DPD/MPR RI, H. Hasan Basri, M.H menekankan pentingnya mengamalkan nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari sebagai fondasi menjaga persatuan bangsa.
Hal tersebut disampaikan Hasan Basri saat menghadiri kegiatan bersama Kerukunan Keluarga Pitu Uluna Salu di Kota Tarakan, pada Sabtu (13/12/25).
Dalam pemaparannya, Hasan Basri menjelaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika memiliki makna “berbeda-beda tetapi tetap satu”, yang mencerminkan realitas bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa, dan agama, namun tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia.
“Kita boleh berbeda suku, budaya, bahasa, bahkan agama, tetapi tetap satu sebagai bangsa Indonesia,” ujarnya di hadapan peserta kegiatan.
Untuk memudahkan pemahaman, Hasan Basri mengibaratkan nilai Bhinneka Tunggal Ika seperti suasana di warung kopi. Menurutnya, meski kopi, gelas, dan gula yang digunakan berbeda, tujuan akhirnya tetap sama, yakni duduk bersama, berbincang, dan menjaga kerukunan.
Ia menilai nilai-nilai kebersamaan tersebut sejatinya telah hidup lama dalam adat dan budaya masyarakat, termasuk di lingkungan Pitu Uluna Salu, jauh sebelum Indonesia merdeka. Nilai saling menghormati, tidak saling menjatuhkan, serta mengutamakan musyawarah telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu.
Hasan Basri juga memberikan contoh penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari, seperti tetap saling menyapa meski berbeda pilihan politik, tetap menjaga persahabatan meski memiliki pandangan yang berbeda, serta menyelesaikan perbedaan pendapat melalui dialog, bukan emosi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tantangan dalam menjaga Bhinneka Tunggal Ika saat ini bukan lagi berupa konflik fisik, melainkan datang dari penyebaran hoaks, provokasi di media sosial, serta informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat berdasarkan suku, agama, dan kelompok.
“Sering kali orang mudah terpancing emosi hanya karena membaca satu informasi di media sosial, padahal belum tentu benar,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Hasan Basri menekankan pentingnya peran bapak-bapak sebagai penyejuk di dalam keluarga dan lingkungan. Menurutnya, sikap dewasa, bijak dalam menyaring informasi, serta tidak mudah menyebarkan berita yang belum terverifikasi merupakan bentuk nyata menjaga persatuan bangsa.
Ia juga menegaskan bahwa perbedaan pendapat tidak bertentangan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika. Yang terpenting, kata dia, adalah cara menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap saling menghormati, tidak merasa paling benar, dan tidak merendahkan pihak lain.
Menutup kegiatan tersebut, Hasan Basri mengingatkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang harus hidup dalam keluarga, lingkungan, dan interaksi sosial sehari-hari.
“Selama kita mau saling menghormati, mau mendengar, dan mau duduk bersama, persatuan Indonesia akan tetap terjaga,” pungkasnya.









Discussion about this post