TARAKAN — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 003 Tarakan Timur mulai menjalankan operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melayani 942 penerima manfaat pada tahap awal.
Kepala SPPG 003 Tarakan Timur dari Yayasan Aztrada Garuda Jaya, Abdullah Suhandika, mengatakan penerima manfaat tersebut berasal dari dua satuan pendidikan di sekitar wilayah layanan.
“Untuk yang diakomodir sekarang sebanyak 942 penerima manfaat. Pada tahap awal operasional ini berasal dari siswa SMP N 3 Tarakan dan TK Pembina 1,” kata Abdullah ditemui usai launching, Senin (9/3/26).
Ia merinci, dari jumlah tersebut sebanyak 835 siswa berasal dari SMP N 3 Tarakan, sementara 107 siswa lainnya merupakan anak didik dari TK Pembina 1.
Menurut Abdullah, pada tahap awal operasional jumlah penerima manfaat memang dibatasi agar proses distribusi makanan dapat berjalan optimal sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
“Untuk awal operasional memang tidak boleh melewati seribu penerima manfaat. Karena itu kami memulai dari dua sekolah tersebut terlebih dahulu,” ujarnya.
Ke depan, jumlah penerima manfaat akan ditambah secara bertahap. Penambahan tersebut tidak hanya menyasar siswa sekolah, tetapi juga kelompok masyarakat lain yang menjadi sasaran program MBG, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Abdullah menjelaskan, berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN), satu unit SPPG ditargetkan mampu melayani hingga sekitar 2.500 hingga 3.000 penerima manfaat.
Namun, menurutnya, peningkatan jumlah penerima dilakukan secara bertahap menyesuaikan kesiapan operasional dapur dan proses distribusi.
“Karena ada tahapan-tahapan, jadi kami mulai terlebih dahulu. Nanti akan bertambah lagi, termasuk untuk ibu menyusui, balita, dan ibu hamil,” jelasnya.
Untuk kelompok ibu menyusui, misalnya, pada tahap awal ditargetkan sekitar 300 penerima manfaat. Jumlah tersebut direncanakan meningkat menjadi 400 pada tahap berikutnya hingga mencapai target maksimal sesuai standar program.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan koordinator wilayah pendidikan guna memastikan pemerataan penerima manfaat di sekolah-sekolah sekitar.
Abdullah menyebutkan, sasaran penerima manfaat selanjutnya akan diprioritaskan pada lokasi yang berada paling dekat dengan dapur SPPG guna menjaga kualitas makanan.
Hal ini sesuai dengan petunjuk teknis dari BGN yang mengatur jarak distribusi makanan maksimal sekitar enam kilometer atau waktu tempuh tidak lebih dari 30 menit dari dapur ke lokasi penerima.
“Karena harus menjaga kualitas makanan, maka sekolah atau penerima manfaat yang diprioritaskan adalah yang paling dekat dengan dapur,” katanya.
Selain itu, pihak SPPG juga diminta untuk memastikan transparansi informasi terkait menu dan kandungan gizi makanan yang disajikan kepada penerima manfaat.
Menurut Abdullah, setiap hari pihaknya akan memperbarui informasi menu melalui media sosial resmi SPPG, termasuk mencantumkan komposisi gizi serta rincian harga makanan.
“Setiap hari kami akan memposting menu melalui media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram. Di situ juga akan dicantumkan informasi kandungan gizi serta harganya,” ujarnya.
Ia menambahkan, menu makanan yang disiapkan telah disusun dalam daftar menu bergilir sebanyak 13 jenis sehingga variasi makanan bagi penerima manfaat dapat terjaga.
Terkait pengemasan makanan, Abdullah menegaskan pihaknya mengikuti standar yang telah ditetapkan dengan menggunakan wadah khusus untuk menjaga kebersihan dan kualitas makanan selama proses distribusi.
Dalam operasionalnya, dapur MBG SPPG 003 Tarakan Timur didukung oleh sekitar 50 orang yang terdiri dari staf dan relawan.
“Total ada sekitar 50 orang termasuk staf dan relawan yang membantu operasional dapur ini,” pungkasnya.







Discussion about this post